Jumat, 07 Desember 2012

Keanekaragaman Hayati Indonesia Mencapai Titik Krisis

Bumi Indonesia merupakan negara Megabiodiversity dengan memiliki 17% dari total spesies dunia.
  • Indonesia juga memiliki 37% dari jenis ikandi dunia
  • 10% dari spesies tanaman di dunia
  • 12% dari spesies mamalia
  • 16% dari spesies reptil dan amfibi
  • 17% dari spesies burung, dan
  • 25% dari spesies tanaman dunia
      Untuk mamalia, Indonesia memiliki 457 spesies, 1.530 spesies burung, reptil 524, amfibi 285, ikan 1.400, dan tumbuhan 29.375 spesies. 
      Namun, Indonesia juga merupakan negara yang mempunyai daftar terpanjang dan terbanyak dari spesies yang terancam punah di dunia. Alhasil, meskipun Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, laju kerusakan pun cukup serius. World Conservation Union atau lebih dikenal sebagai International Union for the Conservation of Nature ( IUCN ), akhir September 2000 lalu mengeluarkan laporan tentang kepunahan spesies hewan dan tanaman. Menurut IUCN, lebih dari 11 ribu spesies tanaman dan binatang di dunia terancam punah karena ulah manusia. Aktivitas manusia menjadi alasan dominan yang mengancam eksistensi spesies. Yang perlu digarisbawahi, Indonesia menjadi salah satu negara yang disorot karena begitu banyak melakukan "pemusnahan" spesies burung dan mamalia.

Spesies apa saja yang terancam keberadaannya?
        Pada tahun 1996, IUCN mencatat  jumlah mamalia yang terancam di Indonesia 128 spesies, burung 104 spesies, ikan 60 spesies, dan tumbuhan 184 spesies. Dari hasil temuan IUCN tahun 2000, jumlah di atas meningkat menjadi 140 spesies untuk mamalia, 113 untuk spesies burung, 28 spesies reptilia, dan 67 spesies ikan terancam keberadaannya.
     Jumlah itu belum termasuk dengan laju kerusakan ekosistem hutan, misalnya periode 1982-1990 rata-rata laju deforestasi sebesar 1,3 juta ha/tahun. Jumlah itu menngkat menjadi 1,6 juta pada periode 1985-1997. Akibatnya, sekitar 39% habitat alami musnah. Musnahnya habitat alami akan berdampak pada tatanan keidupan manusia sebagai pemanfaat yang selama ini menguntungkan hidupnya pada alam sekitarnya.
        Jika rata-rata dari kerusakan yang terjadi saat ini berlanjut maka secara bertahap akan terjadi penurunan dari setiap sistem yang mendukung kehidupan bumi. Memperbaiki yang rusak tidaklah cukup. Untuk kepentingan kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati dalam jangka panjang, diperlukan upaya penyadaran, pendidikan, penelitian, dan penguatan kelompok-kelompok masyarakat sipil. Semuanya diharapkan akan membawa keanekaragaman hayati ke dalam lingkungan inti kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Sabtu, 24 November 2012

Usia Keemasan Balita

      Mungkin kita sering terperangah akan pesatnya perkembangan buah hati balita kita. Belum lagi ternyata mereka dapat melakukan sesuatu yang kita pikir belum dapat mereka lakukan, misalkan menghafalkan lagu-lagu berbahasa asing hanya dengan menonton beberapa kali dari televisi, menirukan omongan orang-orang sekitarnya, dan lain sebagainya. Memang kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan luar biasa yang ada pada anak-anak
.
       Usia di bawah lima tahun ( balita ) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Hal itu karena perkembangan intelegensi anak hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Itulah makanya anak-anak di usia tersebut memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi yang sangat tinggi.
       Kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam menanggapi keingintahuan yang besar itu adalah menghakimi tindakan anak tersebut sebagai kenakalan dan umumnya menyalahkan anak karena tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal itu terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap perkembangan jiwa anak. Padahal pada kenyataannya, umumnya orang tua dan guru  hanya dapat mengajarkan sedikit hal kepada anak-anak karena mereka tidak menyangka pesatnya perkembangan intelegensi anak tersebut. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru itulah tidak jarang potensi luar biasa yang ada pada setiap anak tersia-siakan.
Hal itu sayang sekali karena anak-anak usia belia memiliki miliaran sel saraf otak yang sedang berkembang dan kemampuan yang dahsyat serta daya memori yang kuat. Oleh karena itu, pendidikan yang menanamkan nilai-nilai luhur kemanusiaan ( pengembangan intelegensi, karakter, kreativitas, moral dan kasih sayang universal ) sangatlah perlu diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini.
       Pendidikan prasekolah dan taman kanak-kanak sebaiknya jangan diabaikan. Bahkan, pendidikan bayi yang baru lahir atau sejak masih di dalam  kandungan sudah saatnya dikembangkan. Dedikasi tulus dari guru-guru dan dukungan dari orang tua sepenuhnya akan menjamin keberhasilan pe anak di kemudian hari. Ibaratnya batang pohon yang makin tua makin sulit untuk dibengkokkan sehingga untuk membentuk apa pun sebaiknya dilakukan sejak umur masih muda. Oleh karena itu, didik dan bentuk kepribadian anak-anak kita dengan baik sejak usia dini.